Situs web kami menggunakan cookie untuk meningkatkan dan mempersonalisasi pengalaman Anda dan untuk menampilkan iklan (jika ada). Situs web kami mungkin juga menyertakan cookie dari pihak ketiga seperti Google Adsense, Google Analytics, Youtube. Dengan menggunakan situs web, Anda menyetujui penggunaan cookie. Kami telah memperbarui Kebijakan Privasi kami. Silakan klik tombol untuk memeriksa Kebijakan Privasi kami.

The Great Pacific Garbage Patch : Indonesia Menjadi Ranking 2 Penyumbang Sampah Plastik Terbanyak di Lautan

Sudah seringkali dibahas oleh Zona Bahari tentang sampah yang ada di lautan Indonesia. Dampak membuang sampah sembarang tidak bisa terelakkan lagi dan akhirnya menjadi peristiwa The Great Pacific Garbage Patch, dimana terbentuknya sendiri dari kumpulan sampah-sampah di lautan yang terbawa arus. Fenomena ini sudah terjadi sejak 1988 dan melansir dari kkp.go.id dilaporkan oleh National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA).

Poin tentang Fenomena The Great Pacific Garbage Patch dan Indonesia Menyumbang Sampah Plastik Terbanyak

Melihat penjelasan tentang bagaimana fenomena tersebut terbentuk sepertinya memang sangat  memprihatinkan mengingat ada prediksi juga beberapa tahun biota laut dan sampah perbandingannya lebih banyak sampahnya. Oleh sebab itulah The Great Pacific Garbage Patch terlihat mengkhawatirkan sedangkan Indonesia menjadi penyumbang sampah plastik terbesar kedua. Miris bukan? Kesadaran masyarakat ternyata masih minim, berikut pembahasan fenomenanya.

1. The Great Pacific Garbage Patch Terbentuk karena Kumpulan Sampah

Source : lpmdinamika.co
Source : lpmdinamika.co

Jika menanyakan darimana fenomena tersebut terbentuk? Sesuai dengan namanya, sampah yang dibuang sembarangan oleh masyarakat mengikuti arus dari air hujan melalui sungai lalu berakhir ke lautan. Terbentuklah patch atau kumpulan seperti pulau terdiri dari berbagai macam sampah terutama plastik.

Pasti Anda sudah bisa membayangkan bagaimana fenomena tersebut terbentuk di tengah lautan sehingga sulit memberdayakannya dengan membersihkannya. The Great Pacific Garbage Patch bisa terjadi di lautan mana saja termasuk Indonesia dan sayangnya lagi ternyata negara ini menjadi penyumbang sampah plastik terbesar kedua setelah china.

2. Fenomena yang Mempunyai Pengaruh Besar bagi Lingkungan

Source : greeneration.org
Source : greeneration.org

Selain merugikan ekosistem kelautan, dengan adanya fenomena The Great Pacific Garbage Patch ternyata mempunyai pengaruh sangat besar bagi lingkungan. Biota yang berada di sekitarnya tentu akan ikut menikmati limbah sampah hingga terkadang menyebabkan beberapa di antaranya terancam nyawanya.

Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa letak dari fenomena tersebut biasanya berada di tengah lautan sehingga akan jauh dari pantai sehingga sulit bertanggungjawab atas permasalahan tersebut. Namun sebisa mungkin sebagai pihak penyumbang terbesar kedua, sebaiknya Indonesia bisa memperbaikinya agar ekosistem di sekitarnya kembali sehat.

3. Sulit Diatasi sehingga Harus Dihindari dan Jangan Diulangi

Source : greeneration.org
Source : greeneration.org

Fenomena The Great Pacific Garbage Patch memang terlihat sulit diatasi karena letaknya di tengah lautan dan sudah terlanjur mencemari lingkungan sekitar bawah laut terutama ekosistem dan biotanya. Tidak banyak yang bisa dilakukan sehingga untuk mengatasi harus menghindari pembuangan sampah sembarangan.

Meningkatkan kesadaran masyarakat yang harus mengerti bahwa lautan memiliki potensi besar bagi dunia. Namun ternyata hal tersebut sulit terbukti dengan masih banyaknya sampah menumpuk di lautan bahkan menyebabkan fenomena The Great Pacific Garbage Patch sangat memprihatinkan bagi ekosistemnya.

4. Kesadaran Masyarakat yang Masih Minim Terkait Pembuangan Sampah

Source : minews.id
Source : minews.id

Dengan adanya fenomena The Great Pacific Garbage Patch ternyata membuktikan bahwa kesadaran masyarakat Indonesia tentang pembuangan sampah masih sangat minim. Sudah pernah dikatakan berkali-kali bahwa memang saat ini di era sudah modern tetapi masyarakatnya masih saja mempunyai  pemikiran primitif.

Dimana masih membuang sampah tidak pada tempatnya, pada akhirnya terbawa arus air hujan ke sungai dan berakhir di lautan terjadinya penumpukan lalu fenomena tersebut. Lalu bagaimana cara memperbaikinya? Tidak bisa karena kesadaran seseorang hanya dapat diatur oleh dirinya sendiri, sosialisasi pun jika hati belum berubah tak akan merubahnya.

5. Masih Sedikit Masyarakat Indonesia yang Mengenal Fenomena Tersebut

Source : kaskus.id
Source : kaskus.id

Fenomena The Great Pacific Garbage Patch sebenarnya terbilang sudah lama, mengingat terjadinya pencemaran lautan karena sampah juga cukup lama. Sampai saat ini pun belum ada solusi terbaik untuk mencegahnya, justru semakin bertambahnya tahun peristiwa tersebut terlihat makin parah.

Sampah plastik dan limbah justru semakin terlihat meracuni kondisi lautan di Indonesia juga dunia sehingga memang hal ini sudah menjadi permasalahan serius. Dampak adanya pencemaran lingkungan karena sampah tentu saja fenomena tersebut namun ternyata tetap tidak menyadarkan masyarakat untuk lebih menjaga keindahan lautan.

6. Pengumpulan Sampah di Pantai bisa Sedikit Membantu

Source : huffingtonpost.com
Source : huffingtonpost.com

Menjadi salah satu strategi Ekonomi Biru, pengumpulan sampah yang ada di sekitar pantai dan lautan bisa menjadi solusi menurunkan tingkat terjadinya fenomena The Great Pacific Garbage Patch. Hal tersebut karena keberadaan sampah-sampah tersebut memang berpotensi sampai ke tengah laut jika tidak segera dibersihkan.

Pada dasarnya kebersihan sampah memang masih menjadi perhatian khusus di Indonesia. Hal tersebut karena masih banyak masyarakat tidak sadar. Tidak heran jika rating Indonesia berada di peringkat 2 penyumbang sampah terbesar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Tidak Kalah Menarik