Situs web kami menggunakan cookie untuk meningkatkan dan mempersonalisasi pengalaman Anda dan untuk menampilkan iklan (jika ada). Situs web kami mungkin juga menyertakan cookie dari pihak ketiga seperti Google Adsense, Google Analytics, Youtube. Dengan menggunakan situs web, Anda menyetujui penggunaan cookie. Kami telah memperbarui Kebijakan Privasi kami. Silakan klik tombol untuk memeriksa Kebijakan Privasi kami.

Indonesia masih Melakukan Impor Hasil Laut, Apa Saja Hasil-hasil Lautnya?

Membahas tentang kontribusi yang dilakukan oleh negara satu dengan lainnya membukan pertanyaan apakah Indonesia juga termasuk negara “mendapatkan” hasil laut alias impor. Jawabannya tentu saja iya, karena ada beberapa hasil laut tidak mencukupi bahkan lautan Indonesia memang tidak menghasilkannya. Oleh sebab itu guna memenuhi permintaan pasar dagang, negara ini tetap harus mengimpornya.

Beberapa Hasil Laut di Indonesia yang Masih Diimpor

Mungkin terdengar aneh, mengingat Indonesia sebenarnya menjadi salah satu negara yang terkenal banyak menghasilkan kekayaan laut tetapi ternyata masih mengimpor beberapa pemenuhan permintaan pasarnya. Namun sebenarnya hal tersebut termasuk wajar, mengingat negara maritim satu dengan lainnya memang akan saling membantu. Mengimpor hasil laut hukumnya bukan tidak boleh dan berikut hasil-hasilnya perikanannya.

1. Makarel sering dikonsumsi tetapi Tidak Disadari darimana

Source : orami.co.id
Source : orami.co.id

Melansir dari tempo.co Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyampaikan bahwa ada 10 jenis komoditas Izin Pemasukan Hasil Perikanan (IPHP) atau impor ikan tertinggi pada tahun 2016 di Indonesia. Salah satunya adalah Makarel, dimana jenis ikan tersebut seringkali digunakan sebagai bahan pembuatan ikan-ikan kemasan di kaleng sama halnya dengan sarden. Bnetuknya pun sama.

Menurut tempo.co, pada IPHP komoditas makarel tersebut dilaporkan mengimpor sebanyak 26.652 ton. Angka tersebut cukup besar, namun mengapa Indonesia memilih mengimpornya? Bukannya tidak menghasilkan, tetapi negara tersebut kurang bisa memenuhi permintaan pasar yang melimpah, sehingga jumlah permintaannya lebih besar dibanding dengan hasil tangkapan makarelnya.

2. Sarden Diolah dalam Bentuk Kaleng yang Lezat

Source : idnmediscom
Source : idnmediscom

Selain makarel, temannya yaitu sarden yang juga menjadi komoditas ikan impor Indonesia selanjutnya. Dimana alasan diimpornya ikan tersebut tidak berbeda dengan makarel. Kemungkinan industri ikan-ikan kaleng kemasan di Indonesia menjadi alasan mengapa mereka harus mengimpor makarel dan sarden, karena memang masyarakat Indonesia seringkali mengkonsumsinya.

Namun dibandingkan dengan makarel, Indonesia lebih sedikit dalam mengimpor sarden, yaitu sebesar 19.823 ton. Meskipun tetap banyak tetapi setidaknya angkanya di bawah makarel sehingga membuktikan Indonesia sebenarnya bisa menghasilkan sarden dalam memenuhi permintaan pangsa pasarnya tetapi belum cukup. Kemungkinan tersebut bisa menjadi titik balik suatu waktu tak perlu mengimpornya lagi.

3. Tongkol dan Cakalang sering Ditemui dalam Bentuk Fillet

Source : tribunnews.com
Source : tribunnews.com

Jenis komoditas ikan kedua adalah tongkol dan cakalang, dimana Anda seringkali menemukannya dijual di pasaran dalam bentuk fillet. Hal tersebut karena memang ternyata Indonesia memenuhi permintaan pasaranya sebagian dengan mengimpor kedua komoditas perikanan tersebut. Namun jumlahnya di bawah dari sarden, sehingga sebenarnya lautan Indonesia menghasilkannya.

Tetapi lagi-lagi permintaan pasarnya lebih besar daripada jumlah komoditas ikan yang dihasilakan, oleh sebab itulah Indonesia memilih mengimpornya sebagian. Tercatat dari IPHP mengutip dari tempo.co, Indonesia di tahun 2016 mengimpor kedua jenis ikan tersebut sebanyak 18.210 ton. Jumlah tersebut sudah termasuk dua komoditasnya sehingga tidak begitu besar angkanya.

4. Kepiting atau Rajungan hanya Sebagian Permintaan saja

Source : kompas.com
Source : kompas.com

Tak disangka jumlah konsumen yang menyukainya sangat banyak tetapi Indonesia memilih masih mengimpornya karena mungkin memang belum bisa mencukupi permintaan pasarnya. Dimana kepiting berjenis rajungan memang tidak banyak dihasilkan oleh Indonesia sehingga harus mengimpornya. Hal ini bukan rahasia lagi, karena negara ini hanya menghasilkan kepiting berjenis biasa.

Seperti yang biasanya Anda lihat di pasar, rajungan memang langka karena ternyata Indonesia mengimpornya sebanyakn 3.757 ton. Jumlah tersebut sedikit dibandingkan dengan komoditas perikanan diatas, oleh sebab itu masyarakat biasanya akan lebih memilih kepiting biasa atau lokal daripada rajungan. Namun dagingnya lebih gurih rajungan sehingga memang banyak diburu.

5. Ikan Salmon Daging Cantik dengan Berjuta Gizi Tinggi

Source : klikdokter.com
Source : klikdokter.com

Ikan salmon yang bisa Anda temui di supermarket, ternyata menjadi komoditas selanjutnya yang diimpor oleh negara Indonesia. Tidak heran jika harganya sangat tinggi mengingat mendapatkannya terlalu sulit, karena lautan ini tidak dilewati oleh jenis komoditas ikan-ikan tersebut. Namun ternyata permintaan pasarnya cukup besar sehingga Indonesia tetap harus mengimpornya.

6. Sotong bukan Cumi-cumi yang Jarang di Indonesia

Source : sindonews.net
Source : sindonews.net

Sotong berbeda dengan cumi-cumi menjadi komoditas terakhir perikanan yang diimpor. Sama seperti ikan-ikan impor lainnya, sotong ini dihasilkan di Indonesia tetapi tidak banyak, Hal tersebut membuat Indonesia akhirnya mengimpornya. Namun untuk cumi-cumi, masih aman terbukti dari seringnya masyarakat melihatnya di pasar tradisional maupun supermarket.

Mengimpor perikanan bukan merupakan suatu hal yang salah, namun wajar. Seperti sudah dibahas sebelumnya, bahwa negara maritim di dunia saling membantu dalam memenuhi permintaan pasar perikanannya. Termasuk Indonesia yang juga akan membantu jika ada kekurangan dari negara-negara lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Tidak Kalah Menarik