Situs web kami menggunakan cookie untuk meningkatkan dan mempersonalisasi pengalaman Anda dan untuk menampilkan iklan (jika ada). Situs web kami mungkin juga menyertakan cookie dari pihak ketiga seperti Google Adsense, Google Analytics, Youtube. Dengan menggunakan situs web, Anda menyetujui penggunaan cookie. Kami telah memperbarui Kebijakan Privasi kami. Silakan klik tombol untuk memeriksa Kebijakan Privasi kami.

Membicarakan Permasalahan Kelautan : Mengapa Kerusakan Ekosistem Sulit Diperbaiki Menyeluruh?

Pembahasan mengenai permasalahan lautan yang masih menjadi polemik sangat pelik di negara tercinta ini, ternyata salah satunya adalah kerusakan pada ekosistem di berbagai wilayah laut lainnya. Tidak banyak masyarakat menyadari akan permasalahan tersebut karena memang sudah tertutup dengan keindahan wisata bahari terlihat di pelupuk mata.

Beberapa Alasan Kerusakan Ekosistem Sulit Diperbaiki secara Menyeluruh

Sebenarnya ada banyak alasan mengapa kerusakan ekosistem di sektor kelautan saat ini sulit untuk diperbaiki secara menyeluruh. Namun terkadang sulit terbaca oleh masyarakat bahkan pemerintah sehingga tidak terlihat, terlebih bisanya kerusakan terparah terjadi di lautan dalam dan berikut ini alasan mengapa kerusakan ekosistem sulit diperbaiki menyeluruh.

1. Kurangnya Kesadaran Masyarakat untuk Menjaga Ekosistem Kelautan

Source : kompas.com
Source : kompas.com

Jika membahas mengenai ekosistem, pada dasarnya Indonesia memang sangat mengkhawatirkan. Tidak hanya di wilayah sektor kelautan saja, bahkan sungai dan kondisi lingkungan negara ini membutuhkan kesadaran dari masyarakatnya. Hal ini sekaligus menjadi salah satu alasan mengapa kerusakan ekosistem kelautannya sulit diperbaiki secara menyeluruh.

Kurangnya kesadaran masyarakat dalam menjaga ekosistem kelautan menjadi alasan mengapa ekosistem kelautan negeri ini sulit diperbaiki secara menyeluruh. Adanya budidaya dan upaya lainnya akan kembali dirusak jika tingkat kesadarannya kurang, karena pada dasarnya salah satu faktor tercapainya lingkungan sehat adalah masyarakat di sektor terkait.

2. Kerusakan yang Terjadi Terlalu Luas sehingga Sulit Dijangkau

Source : mongabay.co.id
Source : mongabay.co.id

Mungkin keindahan bahari negeri tercinta ini memang sangat luas, namun sayangnya di balik itu semua kerusakan ekosistemnya juga terjadi terlalu luas. Hal tersebut menjawab pertanyaan mengapa sulit sekali memperbaikinya secara menyeluruh. Kerusakannya yang luas mengakibatkan kurangnya keterjangkauan pemerintah dalam memperbaikinya.

Sedang memperbaiki ekosistem kelautan tidak hanya membutuhkan 2-3 bulan, bahkan tahunan untuk mengembalikannya seperti semua. Tumbuhan laut yang mulai dibudidayakan membutuhkan proses berkembang sehingga jika menerapkannya pada semua wilayah berdampak tentunya pemerintah tidak akan mampu menjangkau semuanya.

3. Kurang Luasnya Usaha dalam Memperbaiki setiap Ekosistem yang Rusak

Source : mongabay.co.id
Source : mongabay.co.id

Mungkin memang benar jika kerusakan yang terjadi pada lingkungan sekitar kelautan sudah diupayakan oleh pemerintah bersama masyarakat setempat memperbaikinya. Namun melihat poin sebelumnya, upaya-upaya tersebut kurang luas jangkauannya sedangkan wilayah-wilayah berdampak lebih banyak dari bayangan mereka semua.

Oleh sebab itu alasan mengapa sulitnya memperbaiki secara menyeluruh, tentu saja karena kurang luasnya usaha yang sudah dilakukan. Tidak hanya satu atau dua tempat saja, bahkan hampir setengah kawasan laut di Indonesia sudah mulai rusak karena tercemar hingga hancurnya taman bawah laut, terumbu karang sebagai habitat asli biota laut.

4. Pekerja Pesisir yang Terlalu Serakah dengan Menghalalkan segala Cara

Sorce : beritasatu.com
Sorce : beritasatu.com

Namanya saja manusia, mereka akan mempunyai sisi jahat dan baik. Oleh sebab itu menjadi alasan masih saja ada pelanggaran di sektor kelautan lalu akhirnya berdampak buruk pada ekosistem lingkungannya. Contohnya, mengambil hasil laut dengan mengebom, mengambil biota laut yang dilindungi, menjaring ikan menggunakan alat-alat tidak aman.

Contoh kegiatan tersebut masih sering ditemukan di kawasan lautan Indonesia, hal ini tentunya membutuhkan pengawasan lebih ketat dari kru pemerintahan. Memberikan sanksi terberat karena pada dasarnya merusak ekosistem laut adalah tindakan kriminal yang sangat merugikan banyak pihak terutama merenggut kehidupan biota laut.

5. Masa Pertumbuhan Pembudidayaan yang Membutuhkan Proses Lama

Source : mongabay.co.id
Source : mongabay.co.id

Seperti sudah sedikit disinggung, bahwa proses perbaikan ekosistem sendiri membutuhkan waktu cukup lama. Bahkan jika air lautan sudah terkontaminasi dengan limbah tentunya lebih mengeringan lagi dan tidak akan bisa diperbaiki, oleh sebab itu hal ini masuk ke dalam alasan mengapa sulit sekali memperbaikinya secara menyeluruh.

Masa pertumbuhan pembudidayaan seperti terumbu karang dan tanaman laut lainnya membutuhkan waktu tahunan untuk menjadi lebat seperti sediakala. Beberapa wilayah berdampak terlihat sangat miris keadaannya sehingga membutuhkan upaya terbaik dan lebih keras dalam melakukan perbaikannya, termasuk terkontaminasi oleh limbah.

6. Pemerintah Terkait Kurang Memperhatikan Kerusakan pada Wilayahnya

Source : majalahikan.com
Source : majalahikan.com

Alasan terakhir tentu saja pemerintah terkait kurang memperhatikan kerusakan pada setiap wilayahnya. Bukan salah mereka juga, hal ini memang karena kerusakannya memiliki luas luar biasa sehingga sulit memilahnya satu per satu termasuk wilayah terdampak limbah yang akan sulit ditangani.

Dengan melihat alasan-alasan di atas diharapkan bisa lebih membuat masyarakat sadar bahwa tidak ada hikmahnya merusak lingkungan bawah laut biota-biota laut. Mereka sama seperti manusia yang membutuhkan lingkungan sehat untuk bertahan hidup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Tidak Kalah Menarik