Situs web kami menggunakan cookie untuk meningkatkan dan mempersonalisasi pengalaman Anda dan untuk menampilkan iklan (jika ada). Situs web kami mungkin juga menyertakan cookie dari pihak ketiga seperti Google Adsense, Google Analytics, Youtube. Dengan menggunakan situs web, Anda menyetujui penggunaan cookie. Kami telah memperbarui Kebijakan Privasi kami. Silakan klik tombol untuk memeriksa Kebijakan Privasi kami.

Menjaga Ekosistem : Penyebab Lingkungan Lautan Rentan Rusak karena Padatnya Wisatawan

Ternyata kerusakan ekosistem yang dialami oleh Pantai Maya Bay, tempat wisata ikonik Thailand di tahun 2018 menimbulkan banyak spekulasi mentah bagi negara Indonesia. Mengingat Indonesai dikelilingi oleh tempat-tempat wisata serupa seperti dengan Maya Bay dan jumlah pengunjungnya juga lumayan padat terutama musim liburan. Oleh sebab itu ada baiknya Zona Bahari membahas penyebab lautan rentan rusak jika wisatawan padat.

Beberapa Penyebab Lingkungan Laut Rentan Rusak di Tengah Padatnya Wisatawan

Tidak banyak penyebabnya, namun melalui spekulasi mentah yang dihasilkan dari kejadian 3 tahun lalu di Maya Bay membuat Indonesia juga harus waspada. Mengingat saat ini juga sudah banyak lingkungan lautnya rusak karena berbagai macam hal dan kebanyakan memang ulah manusia. Berikut akan dibahas penyebabnya agar bisa dihindari sedini mungkin melalui upaya terbaik.

1. Aktivitas Wisatawan yang Terus Menerus di Tempat Wisata

Source : suara.com
Source : suara.com

Aktivitas wisatawan yang mendatangi sebuah tempat wisata memang tidak bisa diprediksikan. Sedangkan pihak berwajib tidak akan mungkin melakukan pengawasan pada setiap tempat wisata karena memang terlalu banyak. Di musim liburan terutama, tempat-tempat wisata seperti lautan manusia.

Oleh sebab itulah penyebab pertamanya tentu saja aktivitas wisatawan yang terjadi secara terus menerus sehingga tidak membiarkan alam beristirahat. Selain itu kegiatan seperti berenang, snorkeling hingga diving terkadang juga berpotensi merusak meskipun sama sekali tidak ada niatan dari mereka untuk merusak ekosistemnya.

2. Banyaknya Alat Transportasi Berlalu Lalang di Atas Ekosistem Laut

Source : balitoursclub.net
Source : balitoursclub.net

Tempat-tempat wisata seperti Nusa Penida, Raja Ampat, Karimunjawa dan pantai dengan pesona terbaiknya membutuhkan alat transportasi untuk mencapai ke titik utamanya. Dengan banyaknya wisatawan yang hadir di tempat tersebut tentu saja membutuhkan banyak alat transportasi seperti speedboat serta jenis kapal lainnya.

Hal tersebut merupakan sebuah komposisi yang tak akan pernah bisa hilang dari tempat wisata tersebut karena memang sudah sejak dulu digunakan juga sebagai sumber pendapatan warga sekitar. Namun sayangnya aktivitas kapal-kapal dengan banyaknya wisatawan tentunya juga menjadi alasan rentannya keadaan ekosistem laut saat terjadi kepadatan pengunjung.

3. Adanya Wisatawan yang Tidak Bertanggung Jawab pada Sampahnya

Source : huffingtonpost.com
Source : huffingtonpost.com

Tidak semua wisatawan mempunyai tanggung jawab yang baik ketika mendatangi setiap tempat wisata terutama pantai. Mereka seringkali tak bisa konsisten tentang sampah, dimana biasanya di Indonesia mengingat masyarakatnya masih minim kesadarannya terkait hal itu, di tempat-tempat sejenisnya menjadi lautan sampah.

Perlu diketahui bahwa sampah-sampah tersebut merupakan sumber utama kerusakan ekosistem lautan bahkan mengancam kehidupan biota lautannya. Oleh sebab itulah wisatawan dengan potensi tersebut menjadi ancaman ekosistem terbaik menjadi ternodai karena sampah terutama ketika porsinya pengunjung sangat banyak.

4. Menumpuknya Sampah di Pinggiran Pantai

Source : mongabay.co.id
Source : mongabay.co.id

Selain mereka yang tidak bertanggung jawab, sempat disinggung sebelumnya juga bahwa tumpukan sampah-sampah di pinggiran pantai dan biasanya terlihat seperti daratan sampah seusai kunjungan. Hal tersebut tentu saja menjadi penyebab utama ekosistem kelautan rentan rusak ketika wisatawan padat memenuhi tempat tersebut.

Seperti sudah dijelaskan pada artikel dan pembahasan Zona Bahari yang lalu dimana tumpukan sampah yang ada di pinggiran pantai menjadi salah satu ancaman ekosistem lingkungan hidup. Oleh sebab itulah penyebab keempat tentu saja dengan padatnya wisatawan tumpukan sampahnya pun akan semakin meningkat dan rentan merusak ekosistem.

5. Sebagian Wisatawan tidak Bisa Mematuhi Peraturan yang Ada

Source : pikiran-rakyat.com
Source : pikiran-rakyat.com

Wilayah wisata pesisir di Indonesia sudah cukup memberikan peraturan untuk para wisatawan yang ada disana, namun sepertinya mematuhi aturan bukan sifat dasar sebagian masyarakat Indonesia. Justru banyak dari mereka yang memilih untuk melanggarnya sehingga menjadi ancaman ekosistem.

Salah satunya mengambil biota laut, pasir, hingga terumbu karang yang ada di laut dangkal atau saat surut. Hal tersebut tentu saja menimbulkan kemungkinan besar wilayah pesisir lautan tempat wisata mengalami kerusakan dengan padatnya jumlah pendatang setiap harinya.

6. Pembuangan Limbah Misterius Tidak Diketahui Sumbernya

Source : freepik.com
Source : freepik.com

Limbah misterius yang dimaksudkan, seperti penggunaan sabun, sunblock atau tabir surya, hingga benda milik manusia lainnya. Mungkin sedikit tetapi jika diperhitungkan dari jumlah pengunjung tentunya sangat berpotensi merusak ekosistem lautan.

Tidak ada larangan masyarakat mendatangi tempat wisata pantai, namun dengan kepadatan yang ada tentu saja meningkatkan jumlah kerusakan ekosistem. Melihat bagaimana Maya Bay akhirnya ditutup selama 3 tahun untuk mengembalikan ekosistemnya kembali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Tidak Kalah Menarik